Jawabannya beragam. Setiap
orang akan mempunyai jawaban yang berbeda, walaupun pada sebagian orang
mungkin jawabannya sama.
Ada yang mau menjadi
distributor MLM setelah melihat faktor keuntungan finansial dan materi
yang mungkin diraihnya sebagai distributor sukses.
Ada yang tertarik karena
manfaat produk-produk yang dipasarkan sebuah perusahaan MLM, di mana sebagai
anggota, dia bisa memperoleh potongan harga.
Ada yang tertarik karena
kesempatan pengembangan kepribadian dan pengetuhuan yang ditawarkan
bisnis ini. Karena, untuk menjadi pemasar produk dan pembentuk jaringan yang
sukses, seorang distributor harus diterima oleh pihak mana pun yang ingin
ditemuinya.
Ada pula karena faktor
sosialnya, dimana sebagai anggota dia memperoleh sosialisasi pergaulan dan
jaringan relasi yang luas.
Dan, ini yang menarik, ada
pula karena faktor karir. Sebab, usaha MLM CNI bukan sekadar bisnis
yang menghitung keuntungan dari waktu ke waktu, melainkan juga memiliki
penjenjangan karir, di mana setiap kali tercapai kriteria prestasi atau
pencapaian tertentu, seorang distributor berhak naik posisi ke tingkat lebih
tinggi, yang memungkinkannya meraih berbagai fasilitas bonus dan komisi yang
lebih menarik daripada posisi sebelumnya.
Ini merupakan pertanyaan
klasik yang sering ditemui distributor MLM. Jawabannya sederhana saja :
dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Jadi, susah atau tidaknya,
tergantung pada diri orang yang melaksanakannya. Kalau kemauannya kuat, maka
apa yang diidamkannya akan mudah dicapai.
Di CNI, sudah tidak
terhitung banyaknya orang-orang yang tadinya merasa tidak akan bisa menjadi
distributor sukses, namun kini telah diakui perannya oleh masyarakat. Mereka
ialah orang-orang yang tadinya tidak punya kepercayaan diri, pesimis, tidak
punya modal usaha dengan beragam latar belakang profesi seperti pengayuh
becak, tukang sol sepatu, dan lain-lain.
Namun, karena jenis usaha
ini terbuka bagi setiap orang yang mau menjalankannya, banyak pula mantan
pengusaha, eksekutif, manager, dan pegawai swasta dan pemerintah, yang sukses
di CNI.
Kuncinya satu saja: mau
sukses atau tidak
Sekiranya kita anggap hal
ini sebagai keajaiban, ini bukanlah milik bisnis MLM saja. Di jenis usaha atau
pekerjaan biasa pun, kalau memang tekun, seseorang bisa sukses dalam
kehidupan. Banyak orang yang tadinya tidak punya apa-apa, belakangan bisa
menjadi pengusaha kaya, bahkan ada pula yang menjadi kepala negara atau orang
nomor satu di sebuah negara. Di dunia MLM, hal ini agak lebih mudah
mencapainya karena adanya faktor kebersamaan. Konkritnya, sesama distributor
akan saling membantu dan membagi kesuksesannya tanpa pamrih. Berdasarkan
tindakan mulia ini, orang yang baru bergabung sebagai anggota akan merasa
dirinya berarti sehingga bersemangat tinggi untuk mengubah kehidupannya.
Itulah sebabnya faktor belajar menjadi salah satu unsur penting, di samping
kemauan keras, dalam usaha MLM.
Untuk sebuah bisnis yang
baru berkembang di Indonesia (sejak sekitar 1986), pemantapan citra MLM yang
ada sekarang ini sudah cukup berjalan bagus. Karena, dari data Asosisasi
Penjual Langsung Indonesia (APLI) 1998, sekitar 3 juta orang Indonesia telah
terdaftar sebagai distributor perusahaan-perusahaan penjualan langsung
Indonesia.
Namun, sebagai sebuah bisnis
yang baru berkembang, bisa dimengerti jika sebagaian masyarakat masih
memandang bisnis ini sebagai bisnis yang tidak pas bagi diri mereka. Di
antaranya, karena merasa dirinya dipaksa-paksa untuk menjadi distributor MLM
oleh calon upline-nya. Tentu ini tidak boleh dilakukan. Ini merupakan praktek
perekrutan yang tidak etis oleh para calon upline. Jika Anda sendiri merasa
dipaksa-paksa untuk menjadi distributor MLM, tolak saja cara-cara yang tidak
baik ini.
Namun, persepsi kurang
positif ini, ada pula akibat praktek-praktek usaha oleh sekelompok orang tidak
bertanggung jawab, yang mengaku sebagai MLM padahal sama sekali bukan MLM.
Yang disebut terakhir inlah yang sangat menjatuhkan persepsi MLM di mata
masyarakat.
Di antaranya arisan
berantai. Sekadar mengingatkan, ingatkah Anda dengan kasus Arisan Ongko,
Danasonic, Susu Langrose yang terjadi di Indonesia pada akhir dekade 1980-an
sampai awal 1990-an? Mereka ini mengaku sebagai bisnis MLM, padahal
bukan!
Yang lain, ada pula
permainan uang (money game), yang cukup berkembang di Indonesia sejak
akhir 1990-an. Permainan uang ini lebih mengarah pada perputaran uang dengan
praktek-praktek perekrutan anggota seperti yang dilakukan dalam bisnis MLM.
Sebagai contoh, bisnis Kospin yang mengakibatkan terbakarnya kota Pinrang, di
Sulawesi Selatan, tahun 1998.
Ada pula praktek-praktek
binari, yang bagaikan penjelasan money game diatas, lebih mengutamakan
perputaran uang daripada pemasaran produk.
Pada umumnya,
praktek-praktek usaha yang mengaku MLM ini lebih menitikberatkan pada
perekrutan seseorang untuk menaruh uang pada sebuah perusahaan yang dikatakan
menjalankan bisnis secara MLM. Padahal aktivitas menjual produk/jasanya hampir
tidak ada. Sekiranya ada, sebenarnya hanyalah sebagai
kamuflase.
Jika Anda ditawarkan orang
untuk menjadi anggota sebuah perusahaan dengan ciri-ciri seperti ini, agar
berhati-hati. Jangan sampai menjadi korban yang berikutnya. Uang Anda atau
orang lain yang akan Anda rekrut, akan diputarkan untuk keuntungan keuangan
oleh pengelolanya. Tidak sedikit yang lalu melarikan uang
tersebut
Teliti, apakah perusahaan
pengelolanya terdaftar sebagai anggota APLI. Perusahaan yang terdaftar sebagai
anggota APLI, lebih memberikan jaminan karena APLI melakukan seleksi dan
kontrol ketat atas praktek-praktek bisnis anggotanya. Jika menyimpang dari
praktek penjualan langsung—seperti yang telah disepakati secara international
(lewat WFDSA/World Federation of Direct Selling Association, atau
federasi international untuk asosiasi-asosiasi penjualan langsung tingkat
negara) APLI tidak akan ragu menindak anggota tersebut.
Cara lain, amati dengan
baik, apakah praktek usahanya lebih mengarah pada perputaran uang semata,
bukan pemasaran produk atau jasa.
Jika masih ragu, bertanyalah
kepada lembaga-lembaga advokasi konsumen, seperti YLKI dan lain-lainnya.